Setelah melalui dua minggu waktu mengikuti lomba video Tiktok “Apakah Kita Masih Daring? Akhirnya masa penjurianpun tiba. Juri pada lomba Wikithon pertama adalah:

  1. Kembong Daeng, Akademisi Universitas Negeri Makassar. Secara khusus menilai berdasarkan kategori Tata Bahasa Makassar
  2. Asiz Nojeng, Penyiar Radio dan Asosiasi Pelestari Bahasa Daerah. Secara khusus menilai berdasarkan kategori Eksplorasi Konten Video
  3. Andi Nurul Yuda, Fasilitator Forum Anak Makassar. Secara khusus menilai berdasarkan kategori Milenial dalam menyatakan Aspirasi

Berikut ini nama-nama pemenang lomba Wikithon Pertama BASAIbu Makassar.

Kunjungi Instagram @basaibu untuk informasi terkini kegiatan dan lomba Wikithon.

Pada public conversation yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2021, Para peserta yang hadir adalah mahasiswa, yang berumur dari 18 – 20 tahun. Dari diskusi publik ini kami membatasi umur peserat yaitu dari umur 16-30 tahun. Dalam diskusi public yang dilaksanakan dengan tema pendidikan Makassar ditengah Pandemi covid 19. Tema ini kami angkat karena isu pendidikan menjadi isu yang terjadi saat ini.

Terkhusus untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar Kembali memperpanjang Proses Belajar Daring. Hingga 25 Juni 2021 mendatang. Pasalnya pandemi Covid-19 tak kunjung surut. Hal itu juga sesuai dengan surat edaran Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dengan Nomor 420/3450/Disdik yang 420 SE Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendisikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19.

Selain itu, Tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) Makassar, Sulawesi Selatan resmi melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas. Untuk uji coba pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan SMA Negeri 21, SMA Negeri 4, dan SMA Negeri 2 Makassar.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka terbatas ini dilakukan setelah mendapatkan keluhan masyarakat selama belajar daring.

Situasi yang terjadi sekarang ini di kota Makassar, untuk masyarakat sangat gelisah karena tidak adanya aturan tentang pelaksanaan pembelajaran Tatap Muka dari Pemerintah. Untuk kalangan Mahasiswa di Makassar telah melakukan aksi protes terhadap pemerintah terkait pembelajaran daring. Kondisi saat ini menjadikan pelaksanaan Pendidikan di Kota Makassar sangat tidak jelas. Apalagi penanganan pandemic Covid -19 telah kunjung selesai. Sementara pembelajaran tatap muka harus dilaksanakan. Pemerintah seharusnya menyiapkan fasilitas dan aturan yang baik jika tetap ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka. Mulai dari kesiapan fasilitas di sekolah dan kampus. Seperti apa pelaksanaan teknis dalam mengajar, jumlah peserta didik dan lain-lain. Dan ini hanya terjadi di kota Makassar untuk kabupaten di Sulawesi Selatan, telah melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Sementara Prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial dalam suatu upaya pemenuhan layanan pendidikan di masa pandemi Covid-19.

Maka dari itu, pada lomba wikithon Pertama ini, Tim Basaibu Makassar mengangkat tema “Apakah kita masih daring?” topik tersebut dimaksudkan agar para kaum milenial memberikan aspirasi mereka terkait isu di kota Makassar dan Gowa. Mereka akan menuangkan ide, saran, dan gagasannya terkait pembelajaran daring melalui Lomba Wikithon berbentuk Video. Dari topik ini Tim akan melihat apakah kaum milenial setuju atau tidak setuju dengan pelaksanaan pembelajaran daring ini? Aspirasi ini akan membuat pemerintah mendengar dan melihat secara langsung seperti apa keluh kesah masyarakat dan selain itu aspirasi tersebut akan menjadi pertimbangan langkah pemerintah dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

Setelah pelaksanaan Public Conversation Tim Basaibu Makassar, Tim Basaibu mengambil kseimpulan untuk dilaksanakan sosialisasi terkait lomba wikithon. Berhubung jumlah peserta yang mengikuti kegiatan pada Webinar Pakrappunganta hanya 50 orang yang semuanya adalah mahasiswa.

Bentuk Sosialisasi yang dilaksanakan adalah dengan turut langsung memberikan workshop tentang teknis lomba wikithon. Karena tema kami adalah pembelajaran Daring maka kami fokus untuk mengajak Siswa SMA (berhubung rata-rata umur untuk Siswa SMA yang menduduki kelas 2 – 3, sudah berumur 16 tahun) dan ini merupakan syarat millennial yang bisa mengikuti lomba. Selain itu, kami mengumpulkan Guru-Guru Bahasa Daerah dan meminta untuk dibantu mendampingi siswanya pada lomba wiktihon ini. Selain itu, untuk Mahasiswa kami langsung menghubungi dosennya untuk masuk dalam kelas mengajarnya, dan mempresentasikan lomba Wikithon.

Berikut ini persyaratan dari Lomba Wikithon Pertama.

Pandemi telah mengubah dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah dan tatap muka kini harus dihilangkan. Guru dan orang tua juga belajar untuk lebih aktif dan kreatif dalam mendampingi anak dalam belajar. Sebagaimana diatur secara konstitusional, kita harus mendukung anak-anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, baik tatap muka maupun jarak jauh. Prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial dalam suatu upaya pemenuhan layanan pendidikan di masa pandemi Covid-19,jelas Mendikbud dalam rapat koordinasi (Rakor) dengan Kepala Daerah se-Indonesia tentang Kebijakan Pembelajaran selama Pandemi Covid-19.

Terkhusus untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar Kembali memperpanjang Proses Belajar Daring. Hingga 25 Juni 2021 mendatang. Pasalnya pandemi Covid-19 tak kunjung surut. Hal itu juga sesuai dengan surat edaran Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dengan Nomor 420/3450/Disdik yang 420 SE Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendisikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19. Dalam poin pertama diatur, agar setiap sekolah di Sulsel memperpanjang masa belajar berani, dari tanggal 5 April 2021 sampai 25 Juni 2021. Selain itu, Tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) Makassar, Sulawesi Selatan resmi melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas. Untuk uji coba pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan SMA Negeri 21, SMA Negeri 4, dan SMA Negeri 2 Makassar. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka terbatas ini dilakukan setelah mendapatkan keluhan masyarakat selama belajar daring.

Narasumber

  1. Erwin Akib.,Ph.D
    Dekan FKIP Unismuh Makassar/Pengamat Pendidikan kota Makassar
  2. Dr. Pantja Nur Wahidin.,M.Pd
    Kepala Bidang Management Guru dan Tenaga Pendidikan
    Dinas Pendidikan Kota Makassar
  3. Andi Nurul Annisa Yuda
    Fasilitator Forum Anak Makassar / LKSP Lembaga Studi Kebijakan Publik

Pemantik

  1. Dr. Asis Nojeng.,M.Pd
    Akademisi / Asosiasi Pelestari Bahasa Daerah

Tonton rekaman diskusinya melalui tautan berikut.


Tim Produksi BASAIbu Rumata’ Artspace-MIWF telah melaksanakan diskusi seri#1 secara daring sabtu 10 April 2021. Topik yang diangkat adalah “Bahasa Daerah, Warisan bagi kaum Milenial?” dan menghadirkan para Dewan Penasihat BASAIbu yang sekaligus juga menjadi narasumber dalam diskusi tersebut. Jumlah pendaftar yang teregistrasi sebanyak 377 orang, tetapi yang hadir hingga selesai acara dan yang mengisi survey sekitar 102 peserta. Kesimpulan dari Tim Produksi BASAIbu melihat bahwa dalam diskusi seri#1 hampir semua interaksi diskusi di dominasi dari kalangan akademisi. Penjelasan tentang bahasa daerah Bugis – Makassar bagi kaum milenial berada pada situasi yang menuju kepunahan, sehingga seluruh peran dari seluruh kalangan harus bergerak mencari langkah solutif untuk pelestarian dan pemertahanan Bahasa daerah. Dalam diskusi seri#1 ini, Tim BASAIbu belum melihat secara maksimal diskusi interaktif yang dilakukan oleh peserta milenial.

Maka dari itu, Tim Produksi BASAIbu akan melaksanakan kembali diskusi Seri #2, yang dimana diskusi Seri ini tak lagi dengan menggunakan kata Seri tetapi tim BASAIbu mencoba menggali lebih dalam dengan satu kata dari Bahasa Makassar yaitu “PANYINGKUL” dimana arti dari kata tersebut adalah Sudut atau Pojok. Dalam dialektika kalangan remaja di Makassar sering menggunakan kata “Panyingkul” biasanya diungkapkan dengan kalimat “La kemaeki?” Panyingkul rong,” ini berarti remaja tersebut ingin kesebuah sudut tempat. Biasanya Panyingkul menjadi sebuah tempat bagi para remaja untuk saling berlepas santai, berbicara dan bercanda satu sama lain. Maka, dengan ini untuk pelaksanaan diskusi – diskusi selanjutnya pihak tim BASAIbu akan konsisten menggunakan “Diskusi Panyingkul” baik dilaksanakan secara daring maupun luring.

Dalam diskusi panyingkul, Tim BASAIbu fokus dengan kaum milenial, topik yang dibincangkan adalah “Dicari, kaum milenial yang bangga berbahasa daerah!”. Topik ini sangat  menantang bagi para milenial. Dalam hal teknis diskusi akan tidak lagi menjadi seperti pelaksanaan webinar, yaitu ada narasumber dan para peserta akan menyimak tetapi pada diskusi ini akan dikemas lebih santai, dimana Tim BASAIbu hanya sebagai fasilitator atau pengarah diskusi, Tim BASAIbu membuka lebih banyak kesempatan kepada peserta untuk langsung dalam berpendapat mengutarakan saran dan langkah solutif seperti apa Bahasa daerah agar tetap eksis pada lingkungan percakapan sehari-hari.

Ayo, Milenial kini saatnya kita berbicara Bahasa daerah!.

Tujuan

  1. Memberikan ruang diskusi interaktif Bahasa daerah bagi milenial
  2. Penjaringan peserta untuk partisipasi aktif terkhusus untuk kaum milenial
  3. Mencari langkah solutif untuk pemertahanan Bahasa Daerah yang dilakukan langsung oleh milenial
  1. Mendorong kaum millennial di Makassar dan Gowa untuk meningkatkan awareness untuk aktif munggunakan Bahasa daerah.
  2. Membahas Isu-isu publik akan Bahasa daerah Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.

Narasumber:
Azis Nojeng (Penyiar Radio/Asosiasi Pelestari Bahasa Daerah)
Rara Ayuningsih (Guru Bahasa Daerah)
Abdi Mahesa (Aktivis Bahasa Daerah)

Rekaman diskusi ini dapat ditonton pada tautan berikut ini

Sama seperti spesies yang terancam punah, tujuan akhir bahasa juga tidak seharusnya menunggu hingga tersisa sedikit yang selamat dan kemudian melindungi mereka (membuat suatu rekaman dari penutur terakhir). Sebaliknya, kita harus mengambil langkah pelestarian untuk keberlangsungan keanekaragaman habitat alami dimana bahasa menjadi bagian minoritas di dalamnya. Generasi muda Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) saat ini mulai mengalami keterasingan terhadap bahasa-bahasa daerahnya sendiri. Di kota-kota di Sulawesi Selatan, para orang tua di rumah lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa daerahnya walaupun ibu-bapaknya adalah orang asli Sulawesi Selatan yang masih fasih menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Dalam pergaulan sehari-hari, sangat jarang dijumpai sesama penutur bahasa-bahasa daerah Sulawesi Selatan yang menggunakan bahasanya sendiri ketika mereka bertemu dimanapun. Setiap daerah pasti mempunyai keunikan tersendiri terkait bahasa mereka. Inilah sebagian contoh kecil dari keunikan yang terdapat dalam bahasa daerah yang tidak terdapat dalam bahasa indonesia. Fenomena yang terjadi sekarang, para remaja yang merupakan salah satu pelaku dalam pemertahanan bahasa daerah sudah jarang menggunakan bahasa daerah.
Dalam lingkungan masyarakat kedudukan bahasa daerah mengalami penurunan, hal ini dipengaruhi oleh penggunaan bahasa kedua. Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Namun, lambat laun bahasa daerah pudar, terlupakan, adat istiadat dan budaya dianggap kuno dan dipandang ketinggalan zaman. Walaupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang sudah menginstruksikan integrasi bahasa daerah dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah namun belum mampu mendorong kemampuan dan praktik menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini terjadi pula di Kota Makassar, sebagai salah satu kota besar di Kawasan Timur Indonesia yang dihuni oleh penduduk asli Makassar dan Bugis serta pendatang.
Masyarakat Makassar merupakan satu diantara banyak kelompok pemakai bahasa yang dikenal sebagai masyarakat bilingualisme. Artinya, masyarakat Makassar memiliki dua bahasa yang pemakaiannya terjadi secara bergantian. Salah satu permasalahan linguistik yang akhir-akhir ini mendapat perhatian cukup besar adalah fenomena penggunaan bahasa secara simultan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Penggunaan bahasa Indonesia dalam komunikasi umumnya merupakan bahasa kedua dari penutur, sedangkan bahasa daerah merupakan bahasa pertama atau bahasa ibu. Kontak yang semakin intensif antar dua bahasa tersebut telah menunjukkan adanya kontak bahasa dalam lingkup komunikasi. Bukti nyatanya dapat dilihat pada fenomena berbahasa penutur bahasa daerah Makassar. Bahasa Makassar merupakan bahasa pertama dan merupakan bahasa komunikasi bagi mayoritas penduduk Kota Makassar. Oleh Karena itu, penggunaan bahasa Makassar sulit dipisahkan dari kehidupan penduduk Makassar. Bahasa tersebut selalu memengaruhi penggunaan bahasa lainnya (bahasa kedua). Kontak bahasa Makassar terhadap bahasa Indonesia telah menyebabkan terjadinya perubahan wujud fonem (interferensi dalam bidang fonologi). Perubahan wujud fonem dalam bahasa Indonesia dapat terjadi tanpa disadari oleh penutur bahasa Makassar.
Kontak bahasa yang terjadi pada masyarakat multibahasa menyebabkan berbagai peristiwa-peristiwa kebahasaan. Salah satu peristiwa kebahasaan tersebut adalah pergeseran bahasa. Dalam hal ini seorang atau sekelompok orang meninggalkan bahasa pertama dan beralih menggunakan bahasa kedua. Penelitian mengenai pergeseran bahasa pada masyarakat dewasa, meski mampu menggunakan bahasa Makassar atau Bugis secara aktif, namun menunjukkan penggunaan bahasa Indonesia secara dominan pada wujud penggunaan bahasa mereka. Masyarakat remaja meski mampu memahami bahasa Bugis, namun tidak mampu menggunakan bahasa Makassar atau Bugis secara aktif, sedangkan anak-anak sangat kesulitan bahkan tidak mampu lagi menggunakan bahasa Bugis. Indikasi lain yaitu keberadaan bahasa Indonesia yang seyogyanya telah menggeser keberadaan bahasa Bugis tergeser oleh bahasa Indonesia. Hal tersebut terlihat dari wujud penggunaan bahasa anak-anak yang secara aktif dominan menggunakan bahasa Indonesia.

Narasumber
Dr. Andi Sukri Syamsuri.,M.Hum (Penulis dan Akademisi)
Dr. Ery Iswary, M.Hum (Penulis dan Akademisi)
Sharyn Graham Davies.,Ph.D (Antropolog)
Zainab,.M.Hum (Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan)

Tonton rekamannya melalui tautan