Indonesia merupakan bangsa majemuk yang memiliki beragam agama, ras, suku bangsa, bahasa, adat dan budaya. Kemajemukan ini menjadi keunikan bangsa dalam wujud Kebhinnekaan Nusantara, sudah sepantasnya bila Indonesia adalah bangsa dengan tingkat pluralistik terbesar di dunia. Tapi, bila hal ini tidak dapat dijaga dengan baik, maka sangat mungkin akan terjadi disintegrasi di dalam bangsa.

Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia telah menghadapi tantangan perpecahan, berupa konflik sosial, politik, dan ekonomi. Di akar rumput konflik kekerasan menjadi tantangan sosial bangsa ini. Konflik kekerasan terjadi dihampir semua sektor dari lingkup terkecil seperti keluarga, masyarakat, lingkungan pendidikan, dunia kerja, dan daerah-daerah. Konflik memakan korban jiwa, anak kehilangan keluarga, aktivitas ekonomi terhambat, timbul rasa ketidakamanan, rasa saling membenci, saling curiga, serta rapuhnya nilai-nilai kebangsaan, rasa persaudaraan antar manusia.

Kerukunan antar umat beragama merupakan salah satu modal utama dalam menciptakan kerukunan nasional dan konsep Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang dijadikan semboyan/dasar kerukunan bangsa dari beragam suku dan kepercayaan.

Untuk konteks Sulawesi Selatan, Hasil Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Sulawesi Selatan mencapai 75,70 atau di atas rata-rata indeks KUB nasional yang tercatat pada angka 73,83. Hal ini berdasarkan hasil survei yang dirilis Kemenag 2019 lalu. Tentu hal ini didukung dengan nilai-nilai budaya dengan kearifan lokal sipakatau, sipakainge’, sipakalebbi sangat yang menjadi salah satu indokator memperkuat kerukunan umat beragama di Sulawesi Selatan. KUB yang didasari dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal ini juga yang memperkuat hubungan persaudaraan ketika terjadi bencana maupun wabah seperti saat kondisi pandemi Covid-19 ini. Di sisi lain, kerukunan antarumat ini penting karena menjadi faktor utama dalam mendongkrak perkembangan dan kemajuan pembangunan di suatu daerah.

Generasi muda memiliki tanggung jawab menjaga, mempertahankan dengan bersungguh-sungguh menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya kesadaran tentang ini dan memahami maknanya di dalam diri, maka Indonesia akan terpecah belah.

Pertanyaanya adalah bagaimana kita semua warga negara dan para penerus bangsa ini dapat memiliki kesadaran dan aktif menjaga keharmonisan Bangsa dan Tanah Air Indonesia di tengah derasnya arus tantangan perubahan zaman?

Untuk itu, Rumata’ Artspace-Makassar International Writers Festival di Makassar bekerja sama dengan BASAbali Wiki, melaksakanakan Diskusi Publik – Wikithon #4 dengan tema Memupuk Semangat Toleransi, Menuai Harmoni, yang dlaksanakan secara daring melalui Zoom.

Tujuan

  1. Memberikan pemahaman kepada milenial di Kota Makassar dan Gowa pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
  2. Memberikan informasi hal-hal, langkah-langkah konkrit yang diperlukan untuk menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama
  3. Membangun ruang diskusi interaktif, pendapat mereka tentang toleransi dan kerukunan antar umat beragama
  4. Memberikan pemahaman kepada peserta tentang isu toleransi dan kerukunan antar umat beragama sebagai bekal dalam mengikuti Wikithon #4 dengan tema Kerukunan Antar Umar Beragama.

Narasumber:
Therry Alghifary (Direktur Kita Bhinneka Tunggal Ika)
Ni Nyoman Anna Marthanti (Komunitas Keluarga Bhinneka)
Ahmad Wildansyah (Awardee Pertukaran Mahasiswa Merdeka)

Pemantik Diskusi:
Wildhan Burhanuddin

Waktu Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Sabtu, 13 November 2021
Waktu : Pukul : 10.00 – 12.00 Wita
Tempat : Daring melalui aplikasi Zoom

Rekaman video diskusi publik ini dapat mengunjungi https://www.youtube.com/watch?v=G4g02-aBMoM&list=PL9SPNltxvo3ZkJw50KYUtsDYLbUt51Okh&index=4

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.