Kolaborasi BASAbali Wiki-BASAsulsel Wiki untuk Pemertahanan Bahasa Lokal
UPAYA mendorong pelestarian bahasa daerah kini massif dilakukan. Salah satunya dengan memanfaatkan dunia digital yang kini merambah ke hampir seluruh sendi kehidupan. Sasarannya adalah kalangan milenial, agar mereka bisa berpartisipasi aktif dalam memajukan bahasa lokal di daerahnya masing-masing.

BASAbali Wiki dan BASAsulsel Wiki membangun sebuah kolaborasi untuk program pemertahanan bahasa daerah. Program yang mereka laksanakan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi kaum milenial terhadap isu-isu publik, tentunya dengan menggunakan bahasa daerah.
Ketua Dewan Pembinan Yayasan BASAbali Wiki I Gde Nala Antara, bersama Director of Communication BASAbali Wiki Ni Nyoman Clara Listya Dewi menjelaskan bentuk kerja sama tersebut ketika menjadi tamu pada siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Selasa (8/3). Ia didampingi Wildhan Burhanuddin dari BASAsulsel Wiki.
Dijelaskan Nara, BASAbali merupakan komunitas berbasis digital. Kehadirannya didasari oleh bahasa Bali yang merasa terancam karena dijepit oleh bahasa nasional dengan bahasa asing oleh para wisatawan yang berkunjung. ”Bagaimana agar bahasa Bali bisa hidup di tengah-tengah kehadiran bahasa tersebut? Untuk itulah kita kembangkan bahasa Bali dalam dunia digital dengan platform BASAbali Wiki,” ujarnya.

Dosen Universitas Udayana, Bali ini menyebut, BASAbali Wiki hadir di tahun 2011. Jauh sebelum pandemi ada, mereka sudah memanfaatkan dunia digital secara efektif. Pihaknya bahkan sempat mambahasa-Bali-kan halaman depan Google. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena kurang yang memakainya, sehingga perlahan hilang.
”Setelah itu kami kemudian membuat kamus dan sub-sub bagian lain yang berkaitan dengan bahasa dan budaya Bali. Tiga tahun terakhi kami berusaha sedapat mungkin melibatkan generasi milenial untuk mengelola, membangkitkan minat mereka menghadirkan sumbangan ide. Termasuk solusi pemecahan masalah yang ada di daerahnya. Peran mereka sangat diharapkan untuk memajukan daerahnya berbasis bahasa daerah. Caranya, apapun yang dilakukan selalu menggunakan berbahasa daerah,” terang Nara yang dulunya adalah founder BASAbali Wiki bersama rekannya yang orang asing.
Clara, seorang milenial yang ditanya tentang motivasinya bergabung di BASAbali Wiki, mengatakan dirinya merasa bertanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan dan bahasa di mana dirinya lahir dan besar, yakni Bali.
”Kenapa tidak mulai dari diri saya sendiri untuk kemudian berkontribusi ke hal-hal yang sederhana. Lewat plaform digital yang beriringan dengan kemajuan teknologi di era sekarang,” tuturnya.
Selain itu, ia juga pernah mengikuti event Data Bahasa. Ia bergabung dengan BASAbali Wiki di tahun 2017 sebagai relawan. Clara ketika itu memasukkan daftar nama obat-obatan tradisional Bali. Selanjutnya diajak terlibat dalam pengembangan program hingga sekarang.

”Di kalangan milenial kami peduli pada upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah. Tapi masih ada rasa malu dan tidak tahu cara mengungkapkannya. Karena itu kami sangat terbantu dengan media sosial dan platform BASAbali Wiki. Karena di situ kita bisa mengekspresikan kecintaan terhadap bahasa daerah maupun budaya,” kelasnya.
Ia menyebut, di media sosial saat ini ada bagitu banyak anak muda Bali yang menggunakan bahasa daerahnya. Hal itu dianggap sebagai cara yang efektif untuk mendekatkan mereka dengan bahasa lokal di dunia digital.
”Milenial Bali tidak apatis dengan bahasa daerahnya. Bahkan di BASAbali Wiki, kontributor terbesar justru kalangan milenial. Ada yang kuliah, pelajar SMA dan SMP,” ungkap Clara.
Guna menggaet kalangan milenial untuk mengambil peran dalam pemajuan bahasa daerah, Nara mengaku gencar melakukan sosialisasi, baik di media cetak, elektronik maupun online. Selain itu, juga memberikan edukasi bahwa bahasa daerah itu penting untuk mengungkapkan budaya daerah.
”Membangkitkan rasa bangga mereka bahwa ini milik kita. Siapa lagi kalau bukan kita. Awalnya mengajak yang peduli dulu, seperti mahasiswa dari prodi bahasa. Selanjutnya pelajar SMA yang peduli dan suka berkarya dengan bahasa daerahnya,” imbuhnya.

Adapun program lain yang dilaksanakan adalah lomba,-lomba karena bisa menarik dan menjadi tantangan mereka. Seperti memasukkan banyak kosakata ke dalam platform BASAbali Wiki. Mereka yang menjadi kontributor dan mengisi banyak kosakata diberikan penghargaan.
Clara menambahkan, pihaknya juga pengembangan perpustakaan virtual. Hal ini untuk mendorong masyarakat agar tertarik masuk ke BASAbali Wiki.
”Awalnya kami buat platform dengan dua program utama, yaitu kamus tiga bahasa, Inggris, Indonesia dan Bali, serta perpustakaan virtual. Idenya membuat perpustakaan nyata di dunia virtual. Kalau di perpustakaan biasa ada rak-raknya, kita juga buat di perpustakaan virtual. Ada juga disediakan rak untuk tempat-tempat bersejarah. Ketika ingin mencari pura tertua Bali, bisa masuk di sini. Bagusnya, siapaun bisa menambahkan di dalamnya. Ada banyak orang ingin memperkenalkan apa yang ada di daerahnya kemudian memasukkannya. Tentu juga kita akan seleksi,” tandasnya.
Program lain yang dilaksanakan, di tahun 2018 telah digelar Wikiton (Wiki Maraton) pertama. Peserta diajak memasukkan kosaka bahasa Bali ke dalam platform dengan jangka waktu 24 jam.
”Waktu itu ada lebih 3.000-an kosakata dan kalimat baru dalam bahasa Bali yang dimasukkan. Pesertanya adalah kalangan milenial. Karena efektivitasnya, kami melaksanakan Wikiton partisipasi publik di tahun 2020-2023,” jelasnya.

Karena keinginan untuk lebih memperlebar pelaksanaan program, BASAbali Wiki kemudian menginisiasi pengembangan ke luar. Sulawesi Selatan, khususnya Makassar menjadi daerah pertama yang dipilih di luar Bali.
”BASAbali Wiki dianggap sudah berhasil untuk tujuan awalnya memajukan dan menguatkan bahasa lokal, maka diinisiasi pengembangan ke luar Bali. Kenapa Makassar yang dipilih, sementara masih banyak bahasa lokal di daerah lain? Karena kami tahu permasalahan bahasa daerah di Sulsel cukup rumit,” jelas Nala lagi.
Di Bali, lanjut Nala, permasalahan yang ada masih lebih gampang, karena hanya ada satu bahasa lokalnya. Namun ancamannya terlalu besar dibanding Sulsel. Karena merupakan pusat pariwisata di Indonesia. Warga asing dan masyarakat Bali yang milenial enggan menggunakannya.
”Dilihat dari perkembangan bahasa daerah, banyak yang sudah tidak ada lagi penuturnya, khususnya di Maluku dan Irian. Di Sulsel masih cukup bagus dan Nusa Tenggara. Kita cari yang tidak jauh dulu. Projectnya untuk tiga tahun ke depan kita berkolaborasi BASAsulsel Wiki,” ujarnya. (*/rus)

Sumber: https://beritakotamakassar.com/berita/2022/03/10/berawal-kekhawatiran-punahnya-bahasa-daerah/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.